Seperti buku-buku Kang Abik terdahulu, buku ini pun sarat akan pembelajaran tentang kekuatan cinta manusia. Bahwa jatuh cinta itu adalah hal yang manusiawi dan wajar. Bahkan cinta itu anugrah. Yang terpenting adalah menata cinta itu menjadi sesuatu yang diridloi dan tidak merugikan.
Kisah Takbir Cinta Zahrana, mengisahkan tentang seorang dosen perempuan yang sudah berumur tetapi belum juga menikah. Istilahnya, perawan tua. Ikhtiarnya pun tergolong terlambat, karena berkeinginan lulus S2 dahulu. Begitu lulus dan menjadi dosen, dia pun tersadar, bahwa hanya ada sedikit laki-laki yang berani melamarnya.
Yang pertama adalah Pak Sukarman, dekan fakultas tempatnya mengajar. Laki-laki yang mapan, secara sosial juga mumpuni, dan sudah bergelar haji. Sayangnya, dia mata keranjang dan buatnya, itu masalah pelik. Maka ditolaknya lamaran Pak Karman.
Sayangnya penolakannya berbuntut panjang. Pak Karman tidak terima dan membuat skenario untuk bisa memecatnya dari kampus. Alasan resminya, dia tidak berdisiplin gara-gara sudah ambil cuti selama satu minggu mendadak. Tetapi ada yang berbaik hati untuk memberitahukan maksud jahat itu sehingga dia pun memilih untuk mengundurkan diri sebelum dipecat.
Kemudian yang kedua adalah Pak Didik, teman sesama dosen yang sebenarnya sudah beristri tetapi melamarnya sebagai istri kedua. Juga diabaikannya, karena Pak Didik sudah menjelek-jelekkan istrinya.
Selanjutnya adalah Rahmad. Penjual krupuk santri dari Pak Kyai tempatnya mengajar. Dan berharap Rahmad adalah pilihan pasti, maka rencana pernikahan pun disusun.
Sayangnya Rahmad meninggal karena kecelakaan kereta api. Seketika pupuslah harapannya untuk bisa menikah.
Sampai kemudian adalah mahasiswa bimbingannya, Hasan, yang sudah menyelesaikan S2 di Malaysia. Awalnya dia ragu dan kemudian melaju terus karena semua orang merestuinya.
Kemudian "Dalam Mihrab Cinta", kisah Syamsul yang harus merehabilitasi namanya dengan melanglang buana, dari Kediri, ke Pekalongan, Semarang kemudian di Jakarta.
Dia bukan pencuri, tetapi karena dijebak oleh Burhan, teman sesama santri, maka dia divonis sebagai pesakitan. Keluarganya pun tidak percaya dengan pengakuannya bahwa dia tidak mencuri selama nyantri. Hal itu yang mendorongnya untuk keluar dari rumah dan pergi, untuk membuktikan bahwa dia bisa sukses dan membersihkan namanya tanpa bantuan orang tuanya.
Kemudian dia pun jadi pencopet walaupun sebenarnya tidak ingin. Pelan-pelan dia berjuang untuk tidak terus mencopet. Menjadi guru ngaji privat, bertemu dengan seorang gadis ya€ng dianggapnya sholeha, mulai mengisi kajian dan kemudian bisa masuk TV sebagai penceramah.
Perlahan tapi pasti, dia bisa membuktikan dirinya tidak bersalah dan sukses. Sedang Burhan, orang yang memfitnahnya akhirnya mendapatkan balasan atas perbuatannya beserta bunganya. Ketahuan sebagai pencuri dan pembohong. Ditinggalkan perempuan-perempuan yang sudah ditipunya.
Yang terakhir adalah "Mahkota Cinta". Bertutur tentang kepastan jodoh. Istilahnya kalau jodoh tak kemana ada pada cerita ini. Zul dan Mari, perantauan dari Indonesia untuk menuntut ilmu sambil bekerja.
Ceritanya cukup berliku karena Mari itu sudah pernah menikah dan mantan suaminya selalu mengejar-ngejarnya bahkan mengancam bisa melukai Mari. Belum lagi Mari itu serumah dengan perempuan panggilan kelas atas yang mengakibatkan Mari dan yang lain ikut digelandang ke kepolisian.
Jadi idiom kalau jodoh pasti dipertemukan kembali, benar-benar ada. Ketika di Indonesia mereka saling bertemu dalam rangka ta'aruf menjelang pernikahan. Disana terungkap dalamnya rasa masing-masing kepada satu sama lain.


No comments:
Post a Comment